Menaklukkan Tantangan Studi Sebagai Jalan Pulang Membangun Tanah Papua; Tegas Ka Fara!. Bina Iman Siswa Yayasan Binterbusih di Efrata Ungaran.

Ungaran,  (22/5//2026); Mewujudkan pendidikan berkualitas bagi siswa-siswi Asal Papua yang dikelola oleh Timja Pelajar Asrama Amor Yayasan Binterbusih memerlukan spiritualitas yang menghadirkan kekuatan ilahi di tengah hiduk pikuk duniawi. Bertumpu pada visi Asrama Amor : “Menjadi Asrama yang berkualitas dalam membangun anggotanya menjadi “Beriman Kuat, Berkarakter, Berpengetahuan dan Berketerampilan”. Merupakan proses pembentukan jati diri siswa.

Begitu juga dengan kejelian dan keluwesan melihat realitas siswa Asrama Amor putra-putri di Kota Semarang Timja Pelajar mengolah potensi visioner tim hadirkan kegiatan Bina Iman berupa “Ibadat Menjelang Sumatif Tahun Ajaran 2025/2026, dalam bentuk sharing sassion mengundang Faradiba Anugerah Kaay,S.Psi.,Psikolog  dan Junianus Magal. Kedua nara sumber merupakan Alumni dan Mahasiswa Fakultas Psikologi Soegijapranata Chatolic University (SCU) Semarang.

Tema penguat pada acara tersebut berjudul “Dalam Persekutuan Dengan Tuhan Jerih Payahmu Tidak Sia-Sia”. Hadir sebanyak 64 siswa-siswi didampingi 12 Pamong di Camping Hill Efrata, Dusun Suruhan, Desa Keji, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang berlangsung sejak pk. 17.00 – 21.00 WIB.

Kegiatan ibadah yang diawali dengan lagu pembukaan “Indah RencanaMu Tuhan” menggema di aula pertemuan membuat suasana hening pada kekudusan sunyi. Tasya dan Pianto pasangan siswa-siswi kelas XI yang memandu acara nampak mantap dan tak kikuk. Doa pembukaan yang diawali dengan pengantar singkat oleh Bp. Yulius Tri Margono selaku Koordinator Asrama Yayasan Binterbusih; Menekankan “kita bersama belajar dan membuka diri untuk menerima pengalaman orang lian sebagai referensi hidup dimasa depan, pasti Tuhan akan memberkati”.

Pada sesi sharing session Faradiba Anugerah Kaay,S.Psi.,Psikolog yang akrab dipanggil Kak Fara meyakinkan peserta dengan perkenalan diri dan tujuan datang ke kota Semarang. Alumni Fakultas Psikologi S1 Universitas Kristen Satya Wacana yang telah mengabdikan dirinya di Rumah Sakit di Papua, harus kembali untuk melanjutkan studi Program S1 plus profesi Psikolog di SCU dan diselesaikan dalam kurun waktu satu setengah tahun.

“Bertahan Dalam Proses Bertumbuh Dalam Tuhan” merupakan topik yang dihadirkan  pada siswa. Kak Whisnu yang memandu pada sesi kali ini meminta siswa untuk memanggil bersama-sama “kak Fara, Kak Fara, Kak Fara”.

Dalam paparannya Kak Fara menjelaskan dengan detail dengan sebuah pertanyaan “Ko pu tujuan belajar apa ??, meski banyak jawab yang dikategorikan sebagai jawaban jangka pendek, Kak Fara mencoba menjelaskan  dan menegaskan untuk masa depan“Ko pu proses membangun masa depan tempat membentuk karakter dan tau ko pu diri lebih dalam mempersiapkan diri menjadi berkat bagi tanah Papua”Hanya melalui sekolah dan kuliah, memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dicapai melalui “Pendidikan sebagai jalan pulang membangun tanah Papua”. Tegasnya. Karena dalam bidang pendidikan, kesehatan, kepemimpinan, bidang pelayanan; Anak muda Papua yang menjadi tiang dan estafet untuk  tanah Papua kedepan.

Pada sesi Tanya jawab, Perlin Wandagau mempertanyakan bagaimana membangun adaptasi di Jawa? Kak Fara menyampaikan Stigma terhadap anak papua, diremehkan, dianggap tidak mampu,  stereotip negatif  atau penilaian negatif merupakan kendala utama terhadap adaptasi kita; Oleh sebab itu “Jangan biarkan stigma orang menentukan masa depanmu.”

Untuk langkah konkrit Kak Fara menyarankan untuk membangun kekuatan batin melalui doa dan perenungan; Berharap pada Tuhan, Iman bukan berarti hidup tanpa masalah, Tetap percaya saat keadaan sulit dan Tetap berjalan walau belum mengerti rencana Tuhan. Cari teman dan guru yang dapat menerimamu, itu merupakan awal dan proses adaptasi bisa berjalan dengan baik; Tegasnya!.

Sesi kedua Junianus Magal merupakan mantan siswa Asrama Amor; Pribadi baik, kuat yang pernah bercita-cita menjadi Pendeta, ketika masih aktif sebagai siswa dan berprestasi di bidang olah-raga Pencak Silat. Alumni SMA PL. Don Bosko Semarang, hari-harinya diisi dengan membaca buku dan menelaah isi buku untuk didiskusikan baik dengan teman, guru maupun pamong dan staf Yayasan Binterbusih.

Berbagi pengalaman kehidupan kampus yang ia jalani pada semester 4 ini; Ia menceritakan Kehidupan dan Kedewasaan itu teruji setelah kita duduk sebagai mahasiswa; Mengapa? Karena sebagai mahasiswa semua kebutuhan hidup dan studi harus diurus sendiri. Modal tekun dan membangun relasi dan membuka diri pada siapa saja merupakan modal utama memasuki pendidikan tinggi di Universitas dan kota studi manapun. Gurauan, dan humoris membangun komunikasi yang baik memberikan modal memiliki keterampilan public speaking, kadang bisa memberikan kesempatan untuk menjadi MC atau pembawa acara pada suatu kegiatan, dan ujung-ujungnya adalah relasi dan honor meskipun tidak besar yang diterima.

Nato Natalis Dogopia siswa SMA kelas XI SMA Sint Louis Semarang ketika dikonfirmasi oleh https://binterbusihsemarang.site/wp/ menyampaikan manfaat yang ia terima dari kegiatan bina iman ini adalah memahami materi kedua nara sumber dengan baik, namun yang berkesan adalah pengalaman dari Kaka Juni, bagaimana memproses dirinya mahir public speaking; Imbuhnya!.

Usai sharing session dilanjutkan dengan doa dan telah menjadi kebiasaan di Yayasan Binterbusih kalau ada yang berulang tahun pasti dapat “Kue Ulang Tahun dan Ucapan Selamat” kali ini Ibu Laurent Mayasari yang lahir di Bogor, 22 Mei 1971; dirayakan malam ini dalam suasana kebersamaan dan keakraban.

Pengarahan akademik masing-masing siswa sekolah bersama pamong usai makan malam menjadi penutup acara; Kebersamaan siswa dan Pamong sekolah merupakan refleksi dari kesimpulan atas pengalaman nara sumber untuk diimplementasikan  dalam diri siswa masing-masing menghadapi Tes Sumatif Tahun Akademi Semester Genap 2025/2026. ***@jhe saksono002