Jejak Langkah Menuju Asrama Amor Putra-Putri

Perjalanan ganti-ganti kontrak rumah untuk asrama sementara bagi anak-anak dampingan Yayasan Binterbusih sudah dimulai sejak bulan Juni 1999; Gonta-ganti rumah kontrakan masih ada diseputar kawasan Perumahan Wana Mukti.

Meskipun jauh-jauh sebelum tahun tersebut sudah ada proses pendampingan bagi mahasiswa di luar kota, yang dijalani oleh Bp. Paul Sudiyo. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa anak-anak Papua yang studi di Pulau Jawa dan Bali berjalan dengan baik. Perjalanan dari kota Semarang menuju kota studi Yogyakarta; Jakarta, Bandung, Denpasar dan kota-kota lainnya dijalani menggunakan transportasi umum, dan sesampai di kota studi yang dituju Bp. Paul akan menginap di kost-kostan para mahasiswa berbagi tikar dan makan minum yang ada.

Sejarah mencatat anak-anak yang menjalani studi di Jawa dan Bali, sebagian besar dapat tumbuh dan menyandang gelar sarjana. Membentuk mereka untuk memiliki mental pejuang adalah dasar utama yang selalu disampaikan dalam diskusi di kost para mahasiswa. Hal itu disampaikan menjadi sebuah prinsip hidup yang tidak boleh lengah atas kenikmatan sesaat yang selalu menggona para mahasiswa kala itu. “Salah satu mahasiswa yang tinggal di Yogyakarta pernah menginspirasi bahawa Guru Terbaik Adalah diri Sendiri”.

Diera awal dari perjalanan Asrama Amor ada sosok yang membantu proses pendampingan sebagai Pamong, atau Bapak Asrama sebutanya kala itu; bahkan karenanya sebagai Kepala Asrama yang sebenarnya adalah sebuah jabatan yang identik dengan tugas sebagai “relawan atau fasilitator pendamping anak Papua”.

Tugas tersebut kala itu adalah sebagai pelayan dalam banyak hal; melayani proses pembelajaran, berhubungan dengan sekolah untuk perluan administrasi, pembayaran SPP sekolah, mengurus kebutuhan sekolah, mengawasi pembelajaran, kesehatan kalau ada yang sakit harus berobat ke rumah sakit atau ke klinik, tugas-tugas yang berkaitan dengan mata pelajaran sekolah; memastikan makan, minum, istirahat dan aktivitas rohani dan kesehatan raga.

Sebut saja Theodorus Kossay adalah salah satu Pamong atau Bapak Asrama yang pertama kali, beliau adalah Theodorus Kossay, SS, M.Hum ak Petani dari Lembah Baliem. Jejak pendidikannya dimulai dari Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi, STFT Fajar Timur Abepura tahun 1995-2000 hingga lulus. Saat itu, saya berniat menjadi pastor namun cita-cita saya tak kesampaian, kandas. Usai lulus STFT Fajar Timur, tahun 2000 saya mengajar di SMP dan SMA Negeri 1 Abmisibil, Kabupaten Pegunungan Bintang,” ujar Theo.

Profesi guru segera ditinggalkan lalu Theo menuju kota pelajar Yogyakarta. Tahun 2001-2002 Theo bekerja sebagai relawan, volunteer di USC Satunama, Sleman. Tahun 2001-2007 Theo bergabung dengan Yayasan Binterbusih Semarang mendidik dan membina mental spiritualitas mahasiswa dan mahasiswi anak-anak Papua yang mengenyam pendidikan di Jawa dan Bali.

Dari pekerjaan ini Theo sedikit demi sedikit kumpul uang lalu tahun 2004-2007 ia masuk fakultas Ilmu Budaya, jurusan Antropologi Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tahun 2001-2004  mengemban tugas Pembina Asrama Pelajar Amungme Kamoro yang dikelola Yayasan Binterbusih Semarang, Jawa Tengah.

Jiwa dan semangat kerja yang ditanamkan kedua orangtua saat masih kecil di Lembah Baliem adalah modal utama seorang Theo saat berada di kota studi Yogyakarta. Saat tinggal di kota itu kurun waktu 2004-2007, Theo terlibat dalam berbagai aktivitas pendidikan, sosial kemasyarakatan seperti menjadi tim fasilitator pelatihan kepemimpinan (leadership), pendampingan bagi mahasiswa dan pelajar yang sedang kuliah baik di Jawa maupun Bali.

“Nilai-nilai kerja keras, pantang menyerah orangtua selalu saya pegang teguh. Kata orang tua, orang yang berkebun dengan kerja keras, dia tidak akan lapar dan haus, dia tidak akan susah, tidak akan mengalami kesulitan. Di rumah ia punya rejeki berlimpah, bisa membantu atau memberi makan banyak orang. Itu nilai-nilai yang masih saya pegang kuliah atau aktif di tengah masyarakat,” ujar Theo.

Tak heran, usai merampungkan studi S2 di UGM, tahun 2008-2009 Theo bergabung dalam Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations Development Programme (UNDP) sebagai Pro Poor Planner Kabupaten Jayawijaya, Papua. Tak lama berselang, Theo terpilih menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jayawijaya periode 2008-2013.

Dari perjalanan Pamong Pertama  Asrama Amor Yayasan Binterbusih terlihat bahwa pendampingan yang dijalankan oleh Bp. Paul sudah menuai manfaat besar, bahkan ditingkat dunia.

Demikian dengan Bapak Asrama berikutnya, juga menuai banyak pengalaman; Bp. Antok yang pernah menjabat Bapak Asrama juga bercerita, beberapa mahasiswa dan siswa yang beliau dampingi juga selalu mempunyai ikatan batin dan emosional secara mendalam; bahkan tidak saja pada beliau saja tetapi pada keluarga; Anak-anak Asrama yang saat ini telah menjabat dan berhasil dalam kehidupan, menganggap beliau adalah orang tua; Para Alumni itu menyebutnya “Mama dan Adik-adik” pada istri dan anak Bp. Antok.

Suatu ketika, Pak Antok dan Istrinya mendapatkan pertanyaan dari pada Alumni Asrama yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPRD, “Ia bertanya “Mamah, bagaimana Mamah dan Bapa memberi kami makanan, uang dan menjadikan kami Anak, padahal kami berkulit hitam dan keriting?” dengan lembut Bu Antok menjawab bahwa “Kalian semua adalah anak-anak kami, dan kami tidak pernah membedakannya; Itu semua karena kami hanya memiliki Cinta Pada Kalian”  kami merasakan syukur dan batin kami terpuaskan”.

Berjalannya waktu kisaran tahun 2005-2006; Asrma Amor Putra dan Putri telah selesai dibangun dan para siswa dapat menempati Asrama yang layak untuk tinggal dan belajar serta beraktivitas dalam segala hal untuk menghantarkan ke jenjang pendidikan tinggi. (Jhe saksono 02)