Semarang, (05/01/2026) Kesehatan merupakan kebutuhan yang utama bagi setiap orang, demikian juga dengan kesehatan siswa Asrama Amor Yayasan Binterbusih; sudah bertahun-tahun menjadi program inti dalam proses pendampingan baik bagi siswa maupun bagi mahasiswa.
Untuk proses pendampingan kesehatan siswa Asrama Yayasan Binterbusih bekerjasama dengan Rumah Sakit St. Elisabeth yang ada di kota Semarang; Sedangkan untuk melayani kesehatan dikota-kota studi lainnya juga menggandeng rumah sakit setempat; Semisal Kota Studi Yogyakarta bekerjasama dengan RS. Bethesda; Kota Studi Jakarta dengan RS. St. Carolous dan yang lain-lainnya.
Untuk memudahkan pelayanan bagi pelajar diperlukan surat keterangan jaminan rumah sakit yang ditandatangani Kepala Asrama, Koorwil maupun pihak Yayasan Binterbusih. Syarat administrasi ini mutlak karena setiap bulan ada penagihan pembayaran dari pihak rumah sakit ke Yayasan Binterbusih, meliputi periksa dokter, obat, laboratorium, rongent, maupun biaya opname bagi siswa yang diisyaratkan oleh dokter.
Bp. Agus Prasetyo, sebagai tim pelayanan kesehatan Asrama Amor Semarang, menyampaikan tugas utama dalam pendampingan kesehatan siswa adalah menjaga agar siswa dalam aktivitas sehari-hari dalam keadaan prima; Artinya semua kebutuhan yang berkaitan dengan siswa terpenuhi. Hal ini akan memberikan kesegaran jasmani maupun rohani sehingga memudahkan siswa menjalani tugas akademiknya di sekolah.
Disisi lain pada proses pendampingan perawatan kesehatan siswa, tidaklah mudah karena pemahaman kesehatan secara medis kadang belum dipercayai oleh para siswa; Menurut Pak Agus siswa yang ada di Asrama Amor Putra maupun Amor Putri ada beberapa kategori, dalam hal ini ada kemungkinan siswa melaporkan diri merasa sakit, tetapi itu hanya untuk alasan supaya tidak masuk sekolah.
Sakit-sakitan.
Menghadapi siswa yang demikian biasanya Pak Agus melakukan pendekatan bersama Pamong Asrama, supaya siswa tidak mengorbankan sekolah karena ada yang tidak ia sukai di sekolah; Semisal guru sekolahnya ketika mengajar sering menggunakan “Bahasa Jawa” dan siswa tidak paham atau ada tugas yang belum diselesaikan sehingga siswa menghindar pada mata pelajaran tersebut. Pendekatan berbasis pada “Komitmen dan Penyadaran” selaku orang tua kedua atau orang tua pengganti di Asrama biasanya siswa bisa memahami, dan Pamong melakukan pendekatan ke sekolah untuk memberitahu kalau ada kendala komunikasi antara siswa Asrama Amor, untuk diselesaikan. Sehingga meminta surat keterangan sakit dan periksa ke rumah sakit hari itu gugur, untuk tidak masuk sekolah.
Kedua siswa pada hari Jumat, Sabtu & Minggu aktivitas fisiknya berlebihan sehingga pada hari Senin, yang semestinya sekolah karena kelelahan, lalu melaporkan ke Tim Kesehatan kalau ia sakit pinggang karena kasurnya sudah lepek. Para Pamong dan Pak Agus pada Hari Minggu Malam sudah menyisir Asrama untuk melihat kemungkinan hal itu terjadi. Langkah antisipasi selalu dilakukan agar pada hari Senin siswa dapat sekolah semua tidak ada yang membolos dengan alasan sakit, padahal siswa merasa kelelahan hari-hari sebelumnya.
Benar-benar sakit
Ketika siswa datang ke Jawa; Yayasan Binterbusih telah memprogramkan untuk dilakukan Medical Check Up bagi semua siswa; langkah antisipasi ini untuk memperkecil kemungkinan siswa sakit parah dan opname, juga bisa diketahui sakit bawaan dari Timika pada khususnya dan Papua pada umumnya.
Dari sejumlah siswa Asrama Amor Putra : 47 Siswa & Amor Putri : 32 siswi, data yang disampaikan oleh Bp. Agus rata-rata keluhan yang benar sakit bawaan berupa : Sakit Gigi Kropos / berlubang; TBC (Tuberkulosis) yang merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis; Gangguan pernafasan THT berupa Sinusitis atau peradangan / pembengkakan pada jaringan yang melapisi sinus, yaitu rongga berisi udara di tulang wajah (sekitar mata, pipi, dan dahi).
Hasil dari MCU pada siswa Pak Agus mengkoordinasikan dengan Kepala Asrama untuk didata yang memerlukan tindakan pemeriksaan dan perawatan lanjutan; Namun demikian tidak semua siswa yang dinyatakan sakit mau diperiksakan ke dokter rumah sakit dan meminum obat yang diresepkan, kadang obat yang telah diambil dari Apotik tidak diminum sehingga planning kesembuhan menjadi buyar. Masih teringat bagaimana kekecewaan Pak Agus selama 7 tahun mengabdi di Yayasan Binterbusih, karena perjalanan mendampingi siswa ada yang meninggal dan jenasahnya diantar ke Timika untuk diserahkan kepada keluarganya; salah satu penyebabnya anak tidak mau rawat inap adalah ada ketakutan siswa kalau disuntik atau diinfus; “takut jarum suntik!”.
Hal ini menjadi tantangan bagi Pak Agus, karena untuk menjadikan siswa prima dan sehat tidaklah mudah; kadang ada yang meminta pengobatan kampung atau pengobatan tradisional pulang sementara ke Timika. Ketika permohonan tersebut disetujui maka program pulang ke Timika untuk pengobatan dilaksanakan.
Hal yang membahagiakan Pak Agus adalah ketika siswa menyadari kalau harus pengobatan dan rawat inap di rumah sakit itu diperlukan agar sakit yang diderita tidak kambuh lagi dan siswa “mengiyakan” meskipun siswa ketika rawat inap meminta ekstra puding berupa buah dan makan tambahan, he he he
Pak Agus pria katolik kelahiran Banyumas, 3 September 1966 dan tercatat dengan nomor induk karyawan 039.2018.09 telah melaksanakan pengabdian dan tugasnya di Yayasan Binterbusih sejak 25 September 2018 dan per tanggal 1 Januari 2026, beliau sudah purna; Selamat menikmati masa-masa indah bersama ibu Agil Prasetyati dan kedua putranya mas Cosmas Andre Prasetyo dan Martinus Aditya Prasetyo, Tuhan memberkati *** (jhe saksono-02).
