Pak Antok; Koordinator Unit Transportasi Asrama : “Terapkan Kebiasaan disiplin, tepat waktu dan bertanggungjawab terhadap Driver”.

Pada tahun 1999, pergerakan kebutuhan akan transportasi bagi siswa dan mahasiswa yang dilayani oleh Yayasan Binterbusih sudah mulai disediaan. Ketika itu jumlah siswa ada 6 dan mahasiswa ada 6 orang mereka adalah : 

1. Manuel John Magal, 2. Jhony Stingal Beanal, 3. 

Markus Dibitau, 4. Yerry Magal. 5. Octavianus Omabak, 6. Karel Kum.

Mereka sekolah di SMA St Michael Semarang, saat ini  sekolah tersebut sudah tutup, sedangkan para mahasiswa sebagai berikut : 1. Inna Moyau, 2. Helarius, 3. Wiro, 4. Hengky Amisim (Almarhum), 5. Frans Maubak, 6. Bonifasius

Angkatan Pertama; Jhon Magal salah satu siswa yang menjadi siswa layanan Yayasan Binterbusih saat ini telah menjadi pejabat penting di Timika.

Bp. Paul Sudiyo selaku Ketua Yayasan yang bersahabat dengan Rudolf Budi Setyanto; yang akrab dipanggil Pak Antok, tidak saja sebagai sahabat lebih dari itu beliau berdua sudah seperti kakak adik; sebagaimana saudara kandung. 

 

Melalui persahabatan tersebut Bp. Paul meminta Pak Antok untuk bergabung sebagai relawan Yayasan Binterbusih untuk urusan antar jemput siswa menggunakan kendaraan pribadinya sebuah mobil Suzuki Carry tahun 1987 yang akrab ditengarai sebagai “Suzuki Bagong”.

 

Sebagai seorang sahabat dan saudara Pak Antok mengiyakan permintaan Bp. Paul yang dianggap sebagai kakaknya.

 

Padahal sebelumnya Pak Antok yang malang melintang di dunia perbankan dengan posisi yang menterang, ia tinggalkan, bahkan tawaran sebagai Manager Bank Swasta berikutnyapun ia tolak; Apa yang dicari oleh Pak Antok; hanya Tuhan yang tahu dan menuntun dan mempertemukan mereka berdua untuk melayani anak-anak yang dititipkan Tuhan pada Yayasan Binterbusih kala itu; bahkan kalau Pak Antok mengiyakan posisi manager bank swasta tersebut gaji yang diterima kala itu sudah mencapai 1,5 juta rupiah, sementara di Yayasan Binterbusih Pak Antok menerima Rp. 180.000,- sebagai biaya sewa dan bensin serta sebagai driver, tidak bisa dibayangkan atau masuk akal tawaran yang ia terima.

 

Rudolf Budi Setyanto yang tercatat sebagai karyawan Yayasan Binterbusih dengan no urut 3 di daftar karyawan dengan nomor kepegawaian  004.1999.09; Gabung di Yayasan Binterbusih pada bulan September 1999, awalnya sebagai pelayanan antar jemput siswa di pagi hari dan malam hari menjemput mahasiswa yang kuliah di Unika Soegijapranata Semarang.

 

Berjalannya waktau, sejarah mencatat awal prasarana transportasi diwali dari sini; Pak Antok bertugas sebagai Koordinator Unit Transportasi. Pria katolik kelahiran Purworejo, 27 Juli  1960, yang saat ini tinggal di Jl. Ketileng Indah Utara IV B60, Semarang, menikah dengan CHM. Dwi Sunu K, dikaruniai 3 orang anak : Tessa, Patricia, dan Carel (carolus ).

Masa kerja yang Pak Antok jalani saat ini lebih dari 26 tahun berjalan, penghargaan sebagai karyawan dengan masa kerja 25 tahun sudah diterima tahun lalu, dan sudah menjalani masa pensiun tetapi karena panggilan dan pengalamannya Pak Antok masih diberikan tanggungjawab untuk mengelola kendaraan Yayasan Binterbusih.

 

Kembali kemasa tahun 1999; waktu itu kebutuhan transportasi  setiap tahun berjalan bertambah dengan adanya tambahan kiriman siswa dan promosi “Ayo Sekolah” yang digalakan oleh Yayasan Binterbusih sampai kepedalaman Papua. Maka Pak Antok berinisiatif untuk menambah armada dengan membeli mobil bekas L-300; Murni yang dilakukan oleh Pak Antok adalah pelayanan terhadap anak-anak Papua. Berikutnya Bp. Pascalis Abner, SE selaku pengurus mencoba untuk melakukan pengadaan kendaraan L-300 baru dengan cara kredit, pada waktu itu anak-anak masih manut dan hormat kepada Pendamping, sehingga kendaraan antar-jemput yang ada kapasitas 9 orang bisa diisi 12 sampai 13 siswa mereka tidak protes, dan bisa menerima keadaan, lain dengan konsisi siswa sekarang ada yang merasa tidak nyaman ketika mobil antar jemput diisi melebihi kapasitas.

 

Kebutuhan untuk mengkondisikan asrama menjadi penting, ketertiban dan kedisiplinan disemua kegiatan mesti dijaga; Pak Antok yang awalnya mengurusi transportasi diminta menjadi Kepala Asrama sekaligus mengelola transportasi; ada 2 driver tambahan waktu itu : Pak Anom dan Pak Edy Supriyanto, pria kelahiran Semarang, 16 Juni 1963 ini bertugas sebagai driver dan Operasional yang bertugas melayani Asrama.

 

Kebiasaan disiplin, tepat waktu dan bertanggungjawab terhadap pekerjaan dan tugas yang telah mandarah daging sebagaimana dialami di dunia perbankan oleh Pak Antok beliau terapkan didivisi transportasi asrama. Saat ini Asrama pelajar Amor telah memiliki 17 kendaraan dengan plat nomor sebagai berikut :

Asrama Amor Semarang :

Isuzu H 7276 KB

Fuso H 7407 AG                                 Fuso H 7408 AG                     Fuso 7425 AG

L300 H 1581 MG                               L30P H 1582 MG                   L300 H 1773 UO

L300 H 1609 KG                                L300 H 1370 LC                     L300 H 1565 LG

Carry H 1i83 LO                                 Luxio H 1451HL                    Luxio AD 1901

Asrama Amor Ungaran :

Fuso H 7274 AG                                 Fuso H 7406 AG                     Luxio H 1048 VZ

Luxio H 1496 HZ

 

Dalam mengelola dan mengkoordinir tugas dan tanggungjawab driver Pak Antok menerapkan disiplin yang tinggi, mengingat ketepatan waktu untuk mengantar sekolah dan kegiatan lain serta menjemput memerlukan disiplin, karena melayani siswa menjadi prioritas utama. Selain itu juga selalu siap jaga dengan pembagian tugas dihari libur, Sabtu dan Minggu yang siswa diwajibkan untuk ibadan dan kegereja.

Bagi para driver yang tidak terbiasa dengan ketepatan waktu dan disiplin serta pembagian tugas yang rinci pasti tidak akan tahan lama dan segera diganti dengan orang baru. Sikap ini kadang dianggap tidak toleran, tetapi ya demikian kerja di Asrama Amor Yayasan Binterbusih, karena kelangsungan yayasan akan dinilai dari kinerja semua tim kerja atau divisi yang ada, oleh sebab itu koordinasi dan komunikasi baik yang melayani dan yang dilayani harus berjalan dengan baik.

 

Suatu ketika ada adik dan keponakan Pak Antok yang meminta pekerjaan, ketika mereka menjalankan pekerjaannya tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, maka yang bersangkutan terpaksa di out.

 

Pak Antok menyampaikan kepada para tim kerjanya para driver dan koordinator driver agar selalu setia pada pekerjaannya, karena Tuhan tahu ketika pekerjaannya dilaksanakan dengan baik, pasti banyak berkat yang mengalir pada drivernya; Dan ketika kita melaksanakan pekerjaan dengan hati dan profesional maka ada “kepuasan kerja” yang bisa memberikan semangat hidup bahwa berkat dari-Nya juga mengalir pada para siswa dan pamong pendamping di Asrama Amor Yayasan Binterbusih. (jhe saksono-02)