Semarang, (06/01/2026) Tanggungjawab dan jabatan sebagai Pamong Asrama yang ia emban sejak September 2006, dijalani dengan penuh suka dan duka bersama rekan kerja. Bertempat di Asrama kontrakan Perum Ketileng Raya sejumlah siswa asal Timika Papua tinggal bersama; sekaligus sebagai kantor administrasi keuangan asrama.
Mungkin kita tidak bisa membayangkan kala itu, karena kamar tidur Pak Yulius Tri Margono yang akrab oleh anak-anak dan rekan kerja di panggil Pak Yul. Di Asrama tersebut, salah satu sudutnya ada meja kerja yang dipakai sebagai meja kerja administrasi keuangan ditempati Ibu Ima Wulansari, SE, yang saat ini menjabat sebagai Ka. Timja Keuangan Yayasan Binterbusih. Hari-hari Ibu Ima harus menjalani sebagai pekerja untuk menyelesaikan segala urusan keuangan baik kegiatan dan rutinitas Asrama.
Ceritanya kalau pagi pk.08.00 WIB, Ibu Ima hadir menjalani pekerjaan Pak Yulius sudah tidak ada di tempat; itu berarti Pak Yul sedang mengerjakan aktivitas lain yang menjadi kebutuhan asrama dan siswa, bisa juga Pak Yul merasa pekewuh atau sungkan karena kamar tidurnya untuk ruang kerja keuangan di pagi sampai sore hari.
Pak Yul menyampaikan; “dulu, waktu di Ketileng, kamar kerja ya kamar tidur juga, maka kalau Mbak Ima kerja, ya saya kegiatan diluar; Mau, tidur yg lain kerja kan ndak enak he he he..”!!
Bagi Ibu Ima selaku Administrasi keuangan Asrama, juga demikian tentunya, selain itu tepat di depan kamar tidur Pak Yul dan Ruang kerja Ibu Ima, merupakan ruang santai atau ruang istirahat dan ada 1 buah televisi sebagai sarana hiburan anak-anak kala mereka pulang sekolah. Situasi dan kondisi pada saat itu anak-anak pelajar masih agak sulit ditata, selain mudah marah juga belum bisa beradaptasi dengan baik; Suatu ketika anak-anak minta uang ke Ibu Ima untuk keperluan transportasi dan kebutuhan les tambahan disekolah, karena belum ada persetujuan dari pak Yulius, mereka marah dan melempar botol galon di depan Ibu Ima, kejadian tersebut merupakan uji kesabaran bagi tim kerjanya pelajar kala itu meskipun hanya berlima (Yulius Tri Margono Pamong Asrama; Ima Wulansari, SE Administrasi Keuangan Asrama; Ida Silawati urusan Cathering; Ema Woneo Pamong Asrama Putri dan Keamanan merangkap perbaikan Bp. Sungkowo panggilan Pak Totok).
Pada tahun 2006-2007 proses pembangunan Asrama Amor Putra dan Putri sedang berjalan, dan pada pertengahan tahun 2007 Asrama Amor Putra Mangun sudah selesai dan diresmikan pada tahun 2008. Waktu itu tempat tidur kayu bertingkat yang tersedia belum cukup mencakup kebutuhan siswa yang idealnya hanya 48 tetapi diisi 52 sehingga memerlukan penambahan velbed.
Kepindahan asrama semua aktivitas juga berpindah termasuk Ibu Ima Admin Keuangan Asrama menempati ruang kerja yang baru bersama Bp. Paul. Sementara Yul bersama keluarga mengontrak rumah di RT.02 belakang asrama; sehingga proses pendampingan dan pelayanan bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 5 menit.
Bagi Pak Yul, tugas panggilan sebagai Pamong benar-benar menguras perhatian karena selama 24 jam ia harus selalu mengupayakan kondisi asrama dalam keadaan kondusif dan terkendali, meskipun ada riak-riak kecil di dalam prosesnya.
Untuk mempermudah dan menjebatani hubungan antara Asrama dan lingkungan berjalan dengan baik, stigma terhadap anak-anak Papua yang ditengarai sebagai anak yang suka mabuk dan membuat keonaran – resek; Maka Pak Yul berkesempatan menjabat sebagai sekretaris Rukun Tetangga (RT); Dengan demikian maka komunikasi dan melibatkan anak-anak dampingan Yayasan Binterbusih pada kegiatan sosia di RT, untuk tahun-tahun berikutnya jabatan struktural sebagai Seksi Keamanan di tingkat Rukun Warga (RW); Sehingga keberadaan Asrama Amor Mangun, lambat laun bersamaan dengan kegiatan rutin di asrama maupun di luar asrama bisa diterima masyarakat setempat.
Demikian juga dengan kegiatan di Paroki St.Petrus Sambiroto, Gereja Katolik yang telah dibangun dan diresmikan pada Oktober 2024, dalam aktivitas anak-anak diupayakan untuk terlibat meskipun bersifat temporer berperan sebagai prajurit di Balada Penyaliban perayaan Paskah.
Pada tahun 2010-2011 prioritas pengiriman anak dari YPMAK Papua diprioritaskan pada anak-anak suku Amungme dan Kamoro, kebijakan ini menjadi perhatian dari YPMAK karena tingkat keberhasilan dan jumlahnya dinilai masih sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan hal tersebut; Program Pendampingan Belajar Malam dan Matrikulasi menjadi prioritas utama. Bersama para guru pendamping yang direkrut meskipun bukan guru sekolah, program belajar malam dan matrikulasi berjalan sesuai rencana.
Demikian juga dengan kajian atas perubahan hari sekolah ketika masih 6 hari sekolah, para siswa pulang ke Asrama Amor pk. 13.00 WIB berikutnya siswa bisa dikondisikan untuk belajar malam diawali dari pk. 17.00 WIB; dan pada hari Sabtu mereka masih ada di sekolah sesuai dengan jadual sekolah. Namun ketika hari sekolah berubah menjadi 5 hari sekolah, maka program yang sudah berjalan baik menjadi agak ribet, karena para siswa akan pulang ke Asrama Amor pk. 15.30 WIB, sehingga waktu untuk istirahat dan mengkondisikan belajar malam susah.

Selain itu Pamong harus membuat program terencana pada akhir pekan, hari Sabtu mesti dibuat bagaimana siswa tidak keluar asrama dan beristirahat serta mempersiapkan kebutuhan pribadi berupa mencuci baju, setelika dan aktivitas olah raga yang terpantau. Pak Yulius Tri Margono, tercatat sebagai karyawan Yayasasn Binterbusih dengan nomor pegawai 013.2006.09, sejak September 2006, pria katolik kelahiran Klaten, 17 September 1968, menikah dengan Ibu Yk Wardani, alamat asal : Sokowaten, Jl. Bima 14 C/DK Plumbon RT.05-RW.13, Banguntapan Bantul dikaruniai 1 putra R. Damar Adi yang saat ini menempuh pendidikan di Seminari Kentungan Yogyakarta. *** (jhe saksono-02).

