Pada tahun 2020; saat pandemi covid-19 merajalela situasi negara bahkan dunia sedang mengalami gunjangan yang sangat hebat. Semua orang selalu menggunakan masker dan berjarak satu dengan yang lain sejauh 2 meter, hal ini untuk menanggulangi menularnya virus covid-19. Dalam situasi seperti ini Yayasan Binterbusih berusaha untuk menanggulangi dengan beberapa upaya, berupa penyemprotan desinfektan, sembari mentaati ketentuan yang berlaku di tempat umum dan di lingkungan tempat tinggal.
Asrama St. Thomas Aquinas di Ungaran lebih dikenal sebagai Panti Asuhan Santo Thomas Ungaran, merupakan bagian dari kegiatan layanan gerejawi di Keuskupan Agung Semarang, tempat anak-anak asuhannya dan dikelola oleh para Biarawati Ordo Abdi Kristus (AK), sempat menampung dan mendampingi siswi yang berasal dari Papua sebanyak 5 orang; siswi-siswi tersebut merupakan siswi dampingan Yayasan Binterbusih, situasi covid-19 dengan tidak tertibnya siswa berpotensi untuk penularan virus.
Kelima siswi tersebut adalah : 1. Helena Kotouki, 2. Jenny Maunetti, 3. Bertha Tsunme, 4. Teresa Mamiri, 5. Natalia Uamang (pulang ke Timika tidak melanjutkan studi di Jawa).
Siswi kelas VII tersebut, mereka masih dalam taraf adaptasi dengan lingkungan baru di Asrama yang serba tertib dan teratur. Untuk mengubah perilaku dan kebiasaan di Timika tidaklah mudah bagi para Biarawati yang mendampinginya; Sehingga dengan berat hati kelima siswi tersebut diserahkan kembali kepada Orangtua Wali dalam hal ini adalah Yayasan Binterbusih.
Ketua Yayasan Binterbusih, Pascalis Abner, SE dengan peristiwa pengambalian siswi dimaksud, segera mengambil tindakan untuk mencari kontrakan rumah yang difungsikan sebagai Asrama sementara; dengan demikian segala kebutuhan siswa dari pagi hingga malam menjadi tanggungan lembaga. Beralamat di Jalan S Parman Gang Kenanga Sari Raya Nomor 23 Kelurahan Genuk Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang 50512, Asrama pertama untuk wilayah Ungaran disediakan. Pada tahun yang sama Yayasan Binterbusih mendapatkan kiriman 3 Siswa laki-laki yang bergabung untuk dikelola; dengan demikian untuk Asrama Putri dan Putra mesti harus dipisah.
Belajar dari pengalaman 5 siswi yang dikembalikan ke Orangtua Wali; maka Asrama Ungaran menjajaki berbagai program yang melalui 8K; Siswa-siswa yang awal datang bersama dengan yang lain sulit mengikuti hidup tertib. Oleh tim pendamping dalam hal ini pamong bersama para guru muda teman sebaya melakukan perbaikan perilaku dan menegakan kebiasaan-kebiasaan hidup untuk masa depan mereka.
Anak-anak pada dasarnnya datang ke Jawa masih sulit untuk membaca dan menulis serta berhitung; Namun diantara mereka ada juga yang mempunyai kemampuan dasar yang lumayan dan bisa mengikuti ketentuan akademik di sekolah.
Dari mereka yang bisa menyesuaikan dengan kebiasaan tertib sedikit-demi sedikit mereka yang tadinya belum bisa menyesuaikan akhirnya mulai memahami. Untuk mendukung program pendampingan para siswa dilibatkan di lingkungan dan gereja dengan berbagai kegiatan antara lain : Kegiatan Misdinar; Sakramen Baptis, Penguatan serta kegiatan olah raga dan seni.
Sampai saat ini ada 3 Asrama masing-masing 2 Asrama Putri & 1 Asrama Putra, jumlah mereka sebanyak 60 siswa, kelas VII, VIII & IX. Didampingi oleh 6 Pamong masing-masing :
1 . Meylita Michelina Simamora
KA. ASRAMA AMOR UNGARAN PELAJAR SMP YPMAK
2. Magdalena Simamora
PENDAMPING ASRAMA AMOR PELAJAR SMP UNGARAN
3 . Petrus Rebo Moi
PENDAMPING SISWA ASRAMA UNGARAN
4. Yanuarita S.Y Tamung
PENDAMPING ASRAMA AMOR PUTRI PELAJAR SMP DI UNGARAN
5. Edward Sebastian Handjoyo
PENDAMPING ASRAMA SISWA SMP PUTRA DI UNGARAN
6. Terosia Payumka
PENDAMPING PELAJAR UNGARAN – PEGUNUNGAN BINTANG

